SendalJepit: cerpen

Sponsors

test
Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Wednesday, 19 December 2018

Kesialan di Malam Jum'at

December 19, 2018 0
Kesialan di Malam Jum'at
Cerpen Karangan : Faisal Ramadhan
Kategori : Cerpen Horor

Kau menghela napas panjang. Bola matamu bergerak ke kanan dan kiri, menyapu setiap jengkal taman ini. Kau menggerakkan tangan kanan, mengetuk-ngetuk kursi besi berwarna merah, yang diduduki sedari tadi. Hembusan angin menerpa bajumu yang tipis dan membelai paha putih nan mulusm itu. Kau semakin kencang mengetuk-ngetuk kursi.

Kau melirik tas di sebelah kanan. Memindahkannya ke atas paha. Tanganmu mengubek-ubek isinya. Mencari handphone. Beberapa saat kamudian benda itu berhasil kau genggam. Berbagai jenis pesan menghiasi layar; whatsapp, line, bbm, messenger. Kau menghiraukan semuanya. Hanya fokus melihat angka di pojok kanan atas. 22:13, pertanda malam sebentar lagi mencapai puncaknya.

Kau teringat, Jumat kemarin, di waktu yang sama, kau sedang sibuk-sibuknya bekerja. Meladeni permainan pemuda-pemuda di kosan sempit nan bau. Mengikuti kemauan mereka yang aneh. Memaksamu memakai seragam SMA yang sudah disiapkan. Satu orang memelukmu, sedangkan yang lainnya merekam lewat kamera handphone. Kau tidak melawan, sesuai kesepakatan.

Bungkus rokok tergeletak di sebelah kirimu. Kau mengambil satu batang. Meletakkan rokok itu di antara jari tengah dan telunjuk. Menyalakkan korek api dengan tangan kiri. Perlahan bibirmu menghisapnya. Beberapa detik kemudian mengembuskan asap. Sekali lagi menghisapnya. Lalu mengembuskan asap. Terus mengulanginya. Sesekali asap keluar dari hidungmu.
Taman yang sepi. Beberapa temanmu sudah pergi dari tadi. Sama sepertimu, mereka memakai baju tipis dan rok mini malam ini. Tak lupa memoles wajah dengan make up. Tersenyum manis setiap ada lelaki yang mendekati. Kau heran. Sudah jam segini, belum ada lelaki yang membawamu. Malam yang sial.

Rokok di tangamu semakin pendek. Kau kembali menghisapnya. Lebih lama dari sebelumnya. Setelah itu membuangnya. Tidak ada lagi rokok yang tersisa.
“SIAL,” Kau mendengus sebal sambil meremas bungkus rokok berwarna putih tersebut.
Bola matamu kembali bergerak ke kanan dan kiri. Tidak banyak orang yang kau lihat di taman ini. Sepi. Kau bangkit dari kursi. Berjalan mondar-mandir layaknya setrika. Menghitung berapa lama lagi harus menunggu. 23.00, kau meletakkan kembali handphone setelah melihat angka itu. Angka yang menandakan malam semakin matang.
“Sial.” Sekali lagi kau mendengus sebal.
Capai mondar-mandir dan lelah menunggu, kau memutuskan untuk pulang. Memaksa kaki untuk melangkah. Tanganmu membawa tas cokelat. Mulai dari perlengkapan make up, handphone, power bank dan barang-barang penunjang pekerjaanmu tersimpan di dalamnya. Lemah kau melangkah.
Baru beberapa langkah, dari jauh ada sorot lampu yang menyilaukan matamu. Kau pun berhenti. Ada kesempatan mendapatkan uang. Wajahmu yang sempat layu kembali mekar.

Sorot lampu semakin mendekat. Membuat bayanganmu utuh. Kau tersenyum. Senyuman yang sangat manis. Kau teringat, pelajaran pertama di dunia kupu-kupu malam. Salah satu cara untuk menarik perhatian yaitu dengan senyuman. Berikan senyum termanis. Tak lama kemudian mereka akan terpikat.

Kau semakin senang. Sorot lampu tersebut bukan dari sepeda motor tapi mobil. Ya, mobil. Itu artinya lebih banyak uang yang akan dibawa pulang. Orang kaya biasanya memakai mobil, bukan? Kau pun membayangkan, jika transaksi berjalan mulus, pasti dia akan membawamu ke hotel. Tidak ke kontrakan sempit, kosan berantakan, atau ke semak-semak. Seperti pengalaman-pengalamanmu sebelumnya. Kau pun tersenyum lebih lebar.

Belum sempurna mobil berhenti, senyum di bibirmu menghilang. Tanpa diberi aba-aba kau langsung lari. Orang-orang yang ada di mobil tersebut buru-buru keluar. Kakinya bergerak cepat. Mengejarmu yang terbirit-birit. Seorang lelaki berteriak. Menyuruhmu berhenti. Tapi kau menghiraukannya, tidak mengurangi kecepatan sedikit pun.

Bagaikan binatang buruan, kau berlari sekuat tenaga. Secepat yang kau bisa. Tidak peduli kakimu lecet karena memakai sepatu ber-hak tinggi. Untungnya kau sudah terlatih memakai sepatu tinggi. Bukan hanya berjalan tapi juga berlari.
Sambil tertatih kau melepas sepatu, yang tingginya 10 cm. Supaya bisa berlari lebih cepat. Napasmu ngos-ngosan. Kau mulai kelelahan. Peluh membanjiri tubuh. Celaka! langkahmu kalah cepat. Lelaki yang memburumu semakin mendekat. Hanya tertinggal beberapa langkah saja.
Dalam hati kau menggerutu. Sial, hari ini benar-benar sial. Di luar dugaan, patroli berlangsung di malam Jumat. Padahal biasanya hari Sabtu atau Minggu. Kau tidak henti memaki kenalanmu di Satpol PP, dia tidak memberitahu kalau malam ini akan ada razia.

Kau terus berlari. Di pinggir jalan, tiba-tiba kepalamu terasa sakit. Badanmu terasa remuk. Samar kau melihat beberapa lelaki berseragam mengelilingimu. Mereka panik menyaksikan tubuhmu yang berlumuran darah. Sementara mobil yang menabrakmu pergi entah kemana.

Setelah kematianmu, taman ini menjadi sepi. Semua orang takut datang ke sini malam hari. Apalagi malam jumat. Mereka takut melihatku. Melihat perempuan berbaju tipis, rok mini, yang duduk manis di kursi merah pojok taman. Entahlah aku heran, kenapa mereka takut? Padahal aku selalu tersenyum manis saat bertemu. Apa karena mereka tahu kalau diriku adalah kamu?

Thursday, 13 December 2018

Matematika Pembawa Jodoh

December 13, 2018 0
Matematika Pembawa Jodoh
Cerpen karangan : Faisal Ramadhan
Kategori : Cerpen Cinta

Suasana di kelas XI ipa 2 begitu ramai, para siswa disibukkan dengan PR matematika. Dari meja depan hingga belakang mereka saling menghampiri satu sama lain untuk menanyakan jawaban. Tiba tiba suasana hening seketika dan seluruh mata tertuju pada pintu. seorang wanita paruh baya memasuki kelas, dia adalah Bu Umi guru matematika. Yah… bisa dibilang killer, namun berbeda untuk kali ini wajahnya begitu sumringah dan penuh senyum, tidak seperti biasa.

“Tumben bu Umi kaya gitu, kesambet apa dia?” gumam Lili, anak pinter dan juga cantik.
“Ngga tau tuh” jawab Fira, sahabat karibnya Lili.
Seluruh siswapu heran melihat perubahan bu Umi yang begitu ramah,
“Selamat pagi anak anak, hari ini kita akan kedatangan siswa baru. Silahkan masuk” sapa bu Umi sambil menatap gadis yang berada di ambang pintu. “Ayo perkenalkan dirimu” lanjutnya.
“Selamat pagi teman-teman, perkenalkan nama saya Olivia, kalian bisa memanggilku Via” perkenalan singkat anak baru yang berpenampilan sederhana.
“Silahkan duduk di bangku itu” Bu Umi menunjuk ke arah bangku yang masih kosong.

Via berjalan menuju ke bangku tersebut dan ternyata dia sebangku dengan anak laki laki, yang bisa dibilang maco (mantan cowok), laki-laki itu agak feminim dan tingkahnya pun seperti perempuan.

“Hy?… aku Yusuf” sapa laki laki tersebut sembari mengulurkan tangan.
“Via” jawabnya singkat.

Seorang laki-laki di seberang meja menatap Via sekilas, belum sempat Via menyapa, namun dia memalingkan muka. Dia adalah Firman, anaknya cool, dingin dan cuek, apalagi kalau sama cewek. Firman juga banyak penggemar di kelasnya.
“Anak-anak sekarang kita mulai pelajaran yaa” teriak Bu umi.
Semua anak fokus mengikuti pelajaran, terkecuali Via, mungkin sebagai siswa baru, via harus beradaptasi dengan lingkungan barunya. Dan ternyata Via juga tak begitu menyukai matematika.
Kring… suara bel istirahat telah berbunyi.

“Via ayo kita ke kantin, atau kamu mau liat sekeliling sekolah, biar aku antarkan” tawar yusuf.
Via hanya memiliki teman yaitu Yusuf, karena teman perempuan di kelasnya yang berpenampilan berlebihan dan sifatnya yang keganjenan, hal itu membuat via enggan berteman dengannya.
“Eh nggak, aku mau di kelas dulu soalnya masih capek buat keliling sekarang” tolak Via.
“oya udah aku duluan ya” pamit Yusuf.
Akhirnya Via memilih duduk seorang diri di kelas karena tak seorangpun perempuan di kelasnya menyapa via.
“Kenapa ya teman perempuanku kaya gitu semua, apa aku hanya bisa berteman dengan Yusuf saja?” gumam via dalam hati.

Hari demi hari yang dilalui Via di sekolah hanyalah Yusuf. Padahal Lili dan Fira terlihat berbeda dengan perempuan lain, mereka sepertinya baik dan tidak memilih teman, tapi nyatanya takdir berkata lain, mereka tak mau berteman dengan Via. Bahkan mereka sepertinya membenci Via.

“Eh Via kamu nggak usah deh deketin Firman” tegur Lili pada via.
“Apa maksud kamu li?” Via merasa bingung.
“Nggak usah pura pura deh, kamu pasti suka kan sama Firman” jelas Lili. “Lagian Firman nggak bakal mau kok sama kamu” lanjut Lili sambil meninggalkan Via.
Muka Via terlihat begitu bingung atas tindakan Lili pada via.
Jam ini adalah pelajaran matematika, pelajaran yang paling tak disukai Via.
“Via silahkan kerjakan di depan” tunjuk bu Umi pada Via, beliau memang suka sekali menunjuk muridnya untuk maju.
“Baik bu” sembari via melangkahkan kakinya.

Dengan sekejap Via bisa mengerjakan soal tersebut, kemudian Via kembali ke tempat duduknya.
Brak!! Terdengar suara yang lumayan keras, dan ternyata via terpeleset, semua anak menertawakan Via, terkecuali Firman yang stay cool, belaga cuek gitu. Namun dengan rasa malu, via tetap bisa berdiri dan duduk di kursinya kembali.
“Sudah sudah fokus ke pelajaran lagi!” pinta bu Umi.
Via merasa ada yang berbeda saat menatap Firman yang ada di sampingnya. Jantungnya berdetak tak seperti biasa, mungkinkah ini yang dinamakan cinta.
“Ya Allah inikah yang dinamakan cinta, ah nggak mungkin masa aku suka sama cowok kaya es batu, yang dingin, sifatnyapun keras” gumam via dalam hati.
Setelah sekian lama jenuh dengan matematika, bel pulang sudah terdengar. Para siswa begitu antusias untuk bersiap siap pulang.

Malam hari telah tiba, namun Via tak bisa tidur, pikirannya terpaut pada seorang laki-laki yang duduk di seberang dia. Yah… dia Firman, si cowok es batu.
Dia juga tak mampu melupakan kejadian di sekolah yang memalukan itu.

Hari ini adalah hari minggu, saat dimana para siswa balas dendam setelah 6 hari sekolah, berangkat sunrise hingga pulang sunset. Termasuk dengan Via, bersama ibunya dia mengurus rumah, bantu bantu ibu dan tak lupa beristirahat.

“Via,” panggil mamaya via.
“Iya ma, masuk aja pintunya nggak dikunci” teriak via di dalam kamar.
“Via, ini ada kiriman bunga buat kamu” ucap mama dengan membawa seikat bunga.
“Dari siapa ma?” tanya via sambil merapikan tempat tidurnya.
“Nggak tau nih, ada kertasnya, kamu baca sendiri aja” jawab mama.

Kemudian via membalik badan dan mengambil bunga itu,

“Ya udah mama keluar dulu ya, cie anak mama udah mulai cinta-cintaan nih” ejek mama pada via.
“Ih mama apaan sih” bantah via pada mamanya.
Via segera membuka kertas itu, tertulis sebuah kata
“*Hari minggu yang merindukanmu*

Saat hati ingin menyapamu
Tapi apalah daya
Takdir tak mampu bersua.
Teruntuk Via,
Wanita yang selalu kupuja.
Wajahmu indah bak bidadari
Kata hati tak bisa kupungkiri.”

Raut wajah Via begitu kebingungan setelah membaca puisi itu.
“Ya ampun siapa sih yang ngirim bunga ini” ucap via dengan terheran heran.

Hari minggu dilalui via dengan penuh bahagia, bersama mamanya dia membuat kekompakan. Dan mereka terlihat begitu bahagia. Dimalam harinya Via malah memikirkan Firman yang telah mencuri hatinya, via sama sekali tidak memikirkan siapa pengirim bunga itu.

Hari senin telah tiba, saatnya beraktifitas seperti biasa. Via telah siap mengikuti pelajaran begitupun teman temannya. Dia terlihat sangat semangat karena ada Firman (doinya), ketika pelajaran sesekali via memandang Firman, dan tanpa iya duga manik mata mereka saling bertemu karena Firman juga beberapakali memandang Via.
“Apa? Firman lagi ngelihatin aku?” kaget via didalam hati.
“Ah nggak mungkin, dia kan cowok cuek, ini pasti perasaanku aja yang suka sama Firman” batin Via.
“Via silahkan kerjakan” lagi lagi bu Umi menunjukku.
Dengan santainya dia maju, ketika di depan Bu Umi, Via berkata “Bu itu telalu susah, saya nggak bisa ngerjakan sendiri”.
“Firman bantu Via mengerjakan” respon bu umi atas perkataan Via.

Kemudian Firman mengerjakan soal tersebut bersama Via. Dan semua mata anak perempuan tertuju pada Via dan Firman yang begitu kompaknya mengerjakan.
Via begitu bahagia karena bisa dekat dengan Firman dan mereka saling memandang seakan dunia milik berdua. Dan yang tak disangka, Firman memberikan senyuman termanis pertama pada Via.
“Ya Allah jantungku serasa mau copot” batin via sambil mengerjakan.
Tokk… Suara spidol Via yang terjatuh, spontan Via mengambilnya, namun ada tangan Firman yang mengambil spidol itu, hingga tangan mereka saling menggenggam.
Seisi kelas pun ricuh ketika melihat kejadian itu, terkecuali Lili, dia terlihat begitu marah.

Pelajaran demi pelajaran rasanya banyak banget Firman memandang Via, tapi Via ngga yakin soalnya kan Firman anak yang dingin sama cewek, bahkan dia mungkin ngga punya rasa suka sama cewek. Tapi sejak kejadian tadi, keyakinan tentang firman berubah.

Hari demi hari telah Via lalui dengan hadirnya Firman sebagai doi. Setiap hari selalu ada moment yang membuat Via yakin bahwa cintanya tak akan bertepuk sebelah tangan. Semua yang Via alami, selalu diceritakan pada Yusuf. Bahkan yusuf sangat mendukung bila Via suka sama Firman. Hal itu membuat Via semakin semangat, walaupun tidak ada kemungkinan, intinya Via harus berusaha, karena didunia ini tak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak.
Dan ini adalah hari minggu, pagi pagi Via jogging bersama teman temannya dan seperti minggu sebelumnya, ada seikat bunga yang tergeletak di lantai terasnya. Via segera mengambilnya, seperti minggu lalu ada tulisan di kertas.

“Via, wajahmu mengingatkanku pada rindu.
Senyumanmu membawaku pada tangis sendu.
Melihatmu, begitu ingin memiliki
Meski hati tak mampu bila saat ini”

Wajah Via mulai kebingungan, karena ini untuk yang kedua kalinya, dia penasaran siapa sosok dibalik bunga itu.
Meski penasaran, Via tak terlalu memikirkan karena hanya akan mengganggu pikirannya, Via tahu di otaknya sudah penuh dengan ‘firman’.

Seminggu telah berlalu, semakin hari Firman dan Via semakin dekat, meskipun Firman tetap cuek, tapi setidaknya mereka saling tersenyum saat bertatap.
Dan dihari minggu ini Via memutuskan untuk menyelidiki siapakah sosok pengirim bunga. Karena dia yakin sosok itu akan datang kembali untuk mengirim bunga.

Beberapa saat sosok itu datang, Via sudah mengintai dari kejauhan, dan sosok ifu adalah yusuf.

“Yusuf!!! Jadi selama ini kamu yang mengirim bunga. Aku kecewa sama kamu, selama ini aku menganggap kamu adalah sahabat terbaikku, tak lebih. Tapi mengapa kamu melakukan ini,” teriak via dengan nada tinggi.
“Via, kamu salah paham, ini…” ucapan Yusuf terputus karena Via.
“Salah paham apa? Jelas jelas aku liat dengan mata kepalaku sendiri. Aku benci sama kamu, sekarang kamu pergi!!!” bentak via.
“Via aku bisa jelasin” ucap Yusuf penuh penyesalan.

Via membanting pintu ruang tamu, dia segera ke kamar. Dan tak henti hentinya via menangis, dia tak memiliki sahabat lagi, satu satunya sahabat telah mengecewakan karena perasaan. Via tak percaya orang yang selama ini menemani hari-harinya ternya harus pergi dalam sekejap. Namun Via harus tabah karena perjalanannya masih panjang, dan via tak mau patas semangat karena perasaan.

Seharian Via begitu sedih, dia menangis terus, hingga alam mimpi menjemputnya untuk beristirat sejenak.
Hari senin, hari yang begitu tak diharapkan oleh Via. Dia sangat malas bersekolah apalagi jika harus bertemu Yusuf. Tapi hati kecilnya tak ingin menyerah, akhirnya dia berangkat ke sekolah, sesampai di kelas dia langsung bertemu Yusuf.
“Via maafkan aku, semua itu aku lakukan…” lagi lagi ucapan Yusuf terpotong.
“Udah lah aku nggak mau dengerin kamu, aku udah kecewa sama kamu” jawab via dengan malas.
“Tapi” ucap Yusuf yang terhenti.
“Cukup, aku nggak butuh penjelasan apapun” bantah via.
“Oke, kalau begitu pulang sekolah harus ikut aku ke taman” perintah Yusuf.
“Buat apa? Yang ada hanya buang waktuku saja” tok Via.
“Beri aku kesempatan vi. Ada sesuatu yang harus kamu tau, setelah kamu ikut aku ke taman, kamu boleh marah sapa aku.” jawab Yusuf.
Kringg… bel pulang telah berbunyi, saatnya Via ke taman untuk memenuhi perintah Yusuf.
“Ayo” aja Yusuf dengan ramah.

Via hanya memutar malas kedua bola matanya. Dan dengan malasnya ia mengikuti yusuf di belakangnya.
Sesampai ditaman, Via begitu kaget, nuansa taman yang dihias begitu indah dengan rumput yang terukir simbol love. Meski begitu Via malah tambah benci sama Yusuf.

“Apa maksud kamu? Aku udah bilang, ngga mau!” via memberontak dan langsung pergi.
“Via” terdengar suara lembut yang mampu menghentikan langkah via. Kemudian via berbalik dan menatap ke taman. Ada sosok laki-laki cool yang berada ditengah ukiran love. Sosok itu Firman.
Seketika jantung Via berdetak begitu kencang.
“Via kemari ada yang mau aku omongin” permintaan Firman pada Via.
Kemudian via menghampiri Firman di tengah ukiran love.
“Via, aku mau ngomong sesuatu, boleh kan?” ucap lembut seorang Firman.
“Iya boleh” jawab Via singkat.
“Sebenarnya sosok dibalik bunga bunga yang datang di rumahmu adalah aku, bukan Yusuf, dia hanya membantuku”. Jelas Firman.
“lantas” ucapan Via penuh tanda tanya.
“Yaa aku melakukan ini, karena aku pengecut. Sebenarnya sejak pertama aku mulai bertemu denganmu, sudah menumbuhkan benih benih cinta pada diri ini. Bahkan benih itu, sekarang berkembang begitu indah seiring berjalannya waktu. Mungkin kamu menganggapku sebagai es batu, tapi dengan hadirmu es batu itu telah meleleh selakyaknya hatiku ini. Dan selama ini matematika menjadi saksi kesyahduan cinta diamku padamu. Dan sekarangi di tempat ini akan menjadi saksi bisu. aku ingin menyatakan bahwa aku jatuh cinta sama kamu. Dan maukah kau jadi sahabat hidupku yang selalu ada dalam suka dukaku? Maukah kau jadi pacarku?” ucap Firman panjang kali lebar kali tinggi dibagi dua sambil menggenggam tangan Via.

“Iya Firman aku mau jadi orang yang selalu ada di setiap lembar kehidupanmu”. Jawab Via dengan muka yang begitu bahagianya.
Ternyata tanpa via dan Firman sadari, bahwa di tepi taman begitu banyak siswa yang menyaksikan, termasuk Lili dan fira.
Tiba-tiba Lili dan fira menghampiri Via.
“via bolehkan aku berbicara sama kamu” tanya Lili.
“Iya boleh ada apa li?” jawab via dengan rasa khawatir, karena Via tahu, jika Lili akan membencinya apalagi tahu Via dan Firman telah berpacaran.
“Via, aku mau minta maaf sama kamu, selama ini aku telah membencimu tapi kamu telah menyadarkanku bahwa cinta tak bisa dipaksakan, karena cinta datang dari hati bukan rasa iri. Kini aku sadar bila cinta tak harus memiliki. dan melihat orang yang kita cintai dari kejauhan itu sudah lebih dari cukup. Kamu mau kan memaafkan aku? dan menjadi sahabatku?” perkataan Lili yang begitu mengharukan.
“Iya aku juga nggak bisa menyalahkan atas perasaanmu, karena rasa cinta itu fitrah dan tak mampu untuk kita cegah. Aku mau kok memaafkanmu karena setiap manusia tidak luput dari kesalahan. Dan aku mau menjadi sahabatmu” jawab Via yang disertai bulir kristal yang mengalir dari matanya.
“Aku juga minta maaf ya” ucap fira.
“Iya fira” singkat Via.
“Via aku juga minta maaf ya, sekarang kamu udah tau semua kan?” tanya Yusuf yang sedari tadi diabaikan.
“Eh iya yus, aku juga minta maaf yaa udah salah paham sama kamu”. Jawab Via penuh penyesalan.
Mereka berempat saling berpelukan dan mereka telah berjanji satu sama lain untuk saling menjadi sahabat.
“Ehm, pacar barunya dikacangin nih…” Firman berkata sambil tersenyum.
“ciieee” goda sahabat sahabat barunya Via.
Perkataaan firman tadi menjadi gelak tawa di antara mereka.

Tuesday, 11 December 2018

Akibat Tidak Baca Doa Tidur

December 11, 2018 0
Akibat Tidak Baca Doa Tidur
Cerpen Karangan : Faisal Ramadhan
Kategori : Cerpen Horor


Duuarrr!!!

Terdengar suara petir menyambar memenuhi seisi ruangan kamarku, membuatku terus terjaga dari tidurku. Dinginnya udara malam masuk melewati celah di jendela, menusuk hingga ke tulang rusukku. Ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 12.00, susah untuk tidur. Kemudian aku bangkit dari meja belajarku dan berjalan menuju jendela di belakangku. “Gelap sekali malam ini, apakah akan turun hujan.” pikirku dalam hati.

Duuarrr!!!

Sekali lagi terdengar suara petir menyambar menimbulkan kilatan cahaya di balik jendela. Sesat aku melamun, aku mendengar seperti suara pintu yang terbuka secara perlahan, aku menoleh ke belakang ternyata pintu lemari bajuku yang terbuka. “Dasar angin, bikin kaget saja!” Umpatku dalam hati.
Aku pun berjalan menuju pintu lemari yang terbuka, saat aku mencoba hendak menutup pintu samar-samar terdengar ada suara di balik baju-bajuku yang tergantung di dalam lemari. Rasa takut sekaligus penasaran seperti menghipnotisku utuk membuka satu persatu baju-bajuku, secara perlahan aku mencoba membuka baju-bajuku mencari arah sumber dari suara tersebut, saat pada bajuku yang ketiga tiba-tiba…

Meeeeoonnggg!! Sontak aku kaget dan terjatuh ke belakang.
“sialan, dasar kucing edan..” Napasku tersengal-sengal terasa berat karena takut sekaligus kaget.

Aku berdiri dan menutup pintu lemari bajuku, kemudian aku menuju kamar mandi untuk mencuci muka. “Akhirnya seger kembali, dasar kucing sial!” umpatku dalam hati.

Saat aku ke luar dari kamar mandi, aku melihat sosok perempuan sedang duduk di kursi meja belajarku seperti sedang menulis sesuatu. Aku tidak bisa melihat dengan jelas, karena lampu kamar memang sengaja aku matikan dan hanya lampu di tempat meja belajarku yang masih menyala. “Kakak lagi ngapain di kamarku?” Tanyaku penuh keheranan. Saat aku menyalakan lampu, sontak aku kaget karena sosok tadi tiba-tiba menghilang dari pandanganku. Panas dingin menjalar ke seluruh tubuhku, saat aku merasakan ada seseorang di belakangku. Saat aku membalikkan badan….
“Arrggghhh, setan!!! Ada setan!!” Teriaku sejadi-jadinya.
“Rudi, Rudi kamu tidur yah? Berangsur-angsur aku mendengar seseorang memanggil namaku. “Ibu paling gak suka kalau ada yang tidur saat perlajaran Ibu.”

Perlahan mataku terbuka, aku melihat sekelilingku orang-orang tertawa melihatku. Aku memegangi kepalaku yang agak pusing, perlahan kesadaranku pun pulih. “kok aku berada di kelas….” aku mencoba berpikir untuk mencerna apa yang telah terjadi. “Malah ngelamun, cepat kamu cuci muka ke kamar mandi! Kata wanita di depanku yang ku ketahui adalah guru matematikaku.
“Ahhh!! seger sekali, sialan ternyata hanya mimpi.”

Selesai dari kamar mandi, aku bergegas kembali ke kelas. Akhinya pelajaran pun berakhir dengan bunyinya bel sekolah, para siswa berhamburan ke luar kelas untuk langsung pulang ke rumah. Namun tidak denganku yang kena hukuman harus membersihkan ruangan kelas sendiri karena tidur pada saat pelajaran tadi. “Akhirnya selesai, sekarang hanya tinggal mengunci pintu dan bergegas pulang!”

Saat aku dalam perjalanan pulang menuju, aku melihat pintu gudang terbuka. “perasaan tuh pintu udah ditutup deh?” Aku pun berjalan menuju pintu gudang yang terbuka, tiba-tiba aku mendengar ada orang menangis setelah ku lihat ternyata di dalam ada siswi sedang menangis.

“Hey, kamu kenapa?” perlahan aku berjalan mendekati siswi tersebut. “Kenapa kamu menangis, di gudang lagi, sekarang gudang mau saya tutup sebaiknya kamu pulang!”
Saat aku hendak mau memegang bahunya, dia berbalik menatapku. Darah yang mengalir, kulit yang terkelupas terlihat jelas di matanya. Dia menerkamku seolah-olah ingin memakanku.

“Aarrggghh!! toolloonngg aaadddaa setaaaaaannnn…!!”
Tiba-tiba aku kaget saat cipratan air mengenai wajahku.
“Akhirnya kamu bangun juga, cepat nanti malah terlambat ke sekolah lihat tuh udah jam 6 pagi!” Kata wanita tersebut sambil mencipratkan air lagi ke wajahku. “makannya kata Ibu juga jangan begadang, bandel amat nih anak kalau dibilangin, sambil ngigau setan segala, makanya sebelum tidur tuh berdoa dulu biar gak diganggu setan!” wanita itu terus saja ngomel tak henti-hentinya.

Masih bingung dengan apa yang telah terjadi, tiba-tiba kupingku dijewer.
“Cepetan mandi, malah bengong..”
“iya-iya, sakit tahu Bu!” gerutuku sambil mengelus-ngelus kupingku yang terasa panas.

Perlahan kesadaranku pulih saat air mengguyur tubuhku. Masih tidak percaya kalau ini bukan mimpi, aku coba mencubit pipiku sekali lagi.
“Awww, kalau sakit berarti bukan mimpi..”
Akhirnya setelah kejadian itu aku selalu membiasakan diri berdoa agar tidak mimpi seram lagi.

Selesai

Saturday, 24 November 2018

Keajaiban Kentut

November 24, 2018 0
Keajaiban Kentut
Cerpen Karangan : Faisal Ramadhan
Kategori : Cerpen Lucu

Banyak yang enggak tahu, kalau diem-diem kaya gini ternyata gue punya phobia sama yang namanya kentut. Yang gue namain kaentut phillia, yaitu rasa takut yang berlebih terhadap kentut. Bukan, gue bukan takut sama kentutnya. Tapi yang gue takutin itu ngentut di depan orang (itu si bukan phobia, malu). Masa gue takut ngentut, bisa-bisa badan gue ini jadi balon udara karena gak pernah ngeluarin kentut, diakibatkan rasa takut yang berlebih.

Setiap kali gue merasa ingin kentut di dekat seseorang, gue mencoba menahannya. Tapi yang terjadi muka gue malah berubah menjadi aneh. Bulu gue merinding dan napas gue udah gak teratur.
“kenapa lo pan, tiba-tiba diem gini.” kata dimas, temen sebangku gue.
“(gue menggelengkan kepala) gak apa-apa”
“masuk angin lo?”
“gak.”

Selang beberapa detik gue bersendawa, eeeggh. Kentut gue telah berubah menjadi sendawa.
“tu kan masuk angin lo” Dimas panik, setelah mendengar suara aneh itu keluar dari mulut gue.
“enggak kok, malah gue abis ngeluarin angin.”
Dari kejaadian konyol gue yang terlalu takut untuk ngentut di hadapan orang. Gue malah mandapat satu cara untuk menghilangkan kentut. Dan ini bukan main-main. Jadi, bagi anda yang mempunyai phobia seperti saya, silahkan ikuti langkah-langkah di bawah ini.
Peringatan: Hanya bisa digunakan untuk menghilangkan kentut, tidak untuk menghilangkan boker.
Tahan kentut
1. Ambil posisi yang kamu anggap enak. Jongkok lebih baik.
2. Ambil napas, lalu hembusakan. Lakukan sebanyak 3 kali.
3. Cobalah menahan kentut. Caranya seperti menahan pipis.
Ingat. Jangan sesekali kamu ngeden. Pokoknya jangan!
4. Tahan posisi ini sampai satu menit.
5. Setelah satu menit, dijamin rasa kentut kamu akan hilang.
Dalam beberapa kasus banyak orang yang kaget karena setelah dia melakukan hal ini, dia bersendawa. Tapi jangan takut, apabila anda bersendawa, itu tandanya anda telah berhasil melakukan percobaan menahan kentut. Kentut anda telah berhasil didaur ulang menjadi sendawa.

Di jamannya gue masih SMP, kentut seperti menjadi musuh abadi buat gue. Gue merasa dipermalukan oleh kentut. Gara-gara kentut juga gue berhasil dicap menjadi manusia kentut. Dan gue punya masa lalu yang buruk dengan kentut.
Kejadian ipan manusia kentut itu dimulai sejak gue masih duduk di bangku kelas satu SMP.

Saat itu gue enggak terlalu memperdulikan kentut, bagi gue kentut adalah suatu yang wajar dimiliki oleh seseorang. Dan saat itu gue belum tahu cara menahan kentut, jadi dengan biadabnya gue bisa ngentut kapan aja, dimana aja, semau dan sesuka hati gue.

Tanpa harus cemas ada yang marahin gue. Satu contoh dimana gue belum menghiraukan kentut sebagai masalah yang pelit nantinya, saat itu gue lagi ngumpul di dalam kelas sama teman-teman gue. Lagi asik-asiknya ngumpul, gue dengan hebatnya ngentut di hadapan mereka. PPEEETTT.
“pan, ngentut lu ya.” Kata dadi, seorang teman sebangku gue. Yang mungkin sudah hafal dengan bau kentut gue.
“Hahaha.” Gue ketawa setan.
“najis,” Lanjut saka “bongo amat lu.”
“BONGO!.” Aji teriak dengan nafsunya.

Pokoknya hari itu gue sukses dimaki-maki oleh mereka tapi gue mengganggap itu sebagai hal yang biasa. Gue enggak marah sama mereka, malah sebaliknya. Ibaratnya itu seperti teman gue punya istri dan istrinya itu gue rebut. Jelas, gue enggak bakal marah akan hal ini. Biasa.
Pada sampai akhirnya, untuk pertama kalinya, gue benci sama yang namanya kentut.
Setelah gue puas dengan hebatnya mengentuti teman-teman gue dan berhasil membuat mereka kelepek-kelepek. Akhirnya gue kena karma kentut. Gue kualat karena selama ini sering bermain-main dengan kentut.
Saat itu ulangan semester pertama dan ruangan gue saat ulangan itu nyampur sama anak kelas tiga. Jadi kita itu duduk bersebelahan sama anak kelas tiga. Tapi beruntungnya saat itu gue duduk sendiri, gue duduk paling depan, dekat dengan meja pengawas.
Awalnya ulangan berjalan dengan lancar. Gue dapet soal, gue lihat soal dan gue kerjain itu soal. Sangat begitu simple pikir gue. Tapi masalah pun datang tiba-tiba, saat lagi enak-enaknya ngerjain soal, tanpa ada angin, tanpa ada petir. Gue ngentut, PPPEETTT. Suara yang keluar begitu lembut, merdu dan kencang. Sampai-sampai seisi kelas dibuat takjub oleh suara itu.
“apaan tuh, apaan?” suara seseorang terdengar dari belakang gue.
Gue udah malu banget dengan semua ini.
“ALIF NGENTUT.” Kata orang yang beda, n gejerit dari belakang.
“Hahaha”
Satu ruangan yang tadinya hening, langsung dengan cepatnya menjadi ramai. Tapi masalahnya, mereka menyebut nama alif. Apa karena mereka enggak tahu nama gue, makanya mereka manggil gue dengan nama alif, karena memang bentuk tubuh gue yang menyerupai huruf alif dalam bahasa arab.
Saat gue nengok ke belakang, gue melihat muka temen sekelas gue yang duduk tepat di belakang gue cengengesan ngetawain gue. Gue semakin yakin kalau mereka ngetawain gue. Tapi saat gue nengok ke orang yang duduk di sebelahnya, yaitu anak kelas tiga. Gue ngelihat dengan jelas nya nama ALIF RAMADHAN tertempel di papan nama baju dia. Sudah bisa dipastikan, saat itu mereka semua ngetawain si alif (malang) itu, bukan gue.
“Alif, kamu buang angin ya?” tanya guru pengawas
“enggak bu, enggak.” Si Alif (malang) mencoba membela diri.
“alah Alif, ngaku aja.” Lagi-lagi seseorang teriak dari belakang.
“Hahahaha” mereka semua semakin ketawa lepas.
Sebenarnya saat itu gue kasihan sama si Alif (malang) itu. Yang ngentut siapa, yang disalahin siapa. Tapi gue juga merasa senang, berkat si Alif gue enggak harus menanggung malu saat itu.

Jam pertama ujian semester selesai. Gue buru-buru keluar sebelum mereka sadar kalau yang kentut itu adalah gue dan si Alif, masih saja menanggung apes, dia dikata-katain sama temannya. Selama jam istirahat gue merasa tenang-tenang aja, seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya.
Saat masuk jam kedua ujian, nasib buruk gue pun terjadi. Ternyata si Alif telah memberitahu yang sebenarnya kepada teman-temannya, bahwa yang ngentut itu bukan dia, tapi gue. Maka dengan sukses gue diolok-olok sama mereka.
“woy yang ngentut itu elo ya?” kata seorang kakak kelas, dengan muka cengengesan.
“bukan kok, bukan” jawab gue, panik
“ngaku aja lo,” si Alif ngomong dengan beringas “lo kan yang ngentut.”
Gue hanya pasrah dengan tuduhan itu. dan di dalam kelas, gue sukses diketawain sama anak kelas tiga, bahkan teman sekelas gue pun ada yang ngetawain gue. Nasib.
Selama seminggu ulangan semester, gue dihantui rasa malu yang begitu malu (Nah.). Gue dikongekin terus sama kakak-kakak kelas. Dari mulai masuk, istirahat, bahkan sampai saat pulang pun mereka tidak bosen-bosen ngongekin gue.
Gue udah enggak tahan dengan beban mental yang satu ini. Gue berharap ada gempa bumi yang sangat keras dan menghancurkan sekolah gue. Dengan itu sekolah pun diliburkan dan gue akan tenang.
Karena merasa sangat malu, gue pun berencana untuk masuk sekolah belakangan dan pulang duluan.
Maksudnya saat masuk sekolah, gue gak harus buru-buru masuk ke kelas, gue akan masuk kalau guru pengawas sudah masuk. Dengan demikian, gue gak akan dikongekin sama mereka. Dan saat pulang, gue akan buru-buru mengumpul soal duluan, agar bisa pulang dengan cepat, tanpa harus ketemu mereka.

Alhasil, rencana gue enggak berjalan seperti yang gue inginkan. Rencana pertama untuk masuk kelas belakangan telah berjalan lancar. Tapi rencana yang kedua, untuk ke luar kelas duluan tidak bisa gue lakukan. Karena terlalu bodoh atau apa,gue gak bisa mengerjakan soal-soal ulangan dengan cepat. Gue selalu ke luar di saat anak kelas tiga telah ke luar. Dan mereka dengan setianya selalu nunggu gue keluar di depan pintu.
“wih udah selesai.” Kata seorang anak kelas tiga dengan muka siap ketawa.
Gue hanya senyum, perasaan gue mulai gak enak. Sepertinya sebentar lagi bencana besar akan terjadi.
“woy,” lanjut dia “udah cebok belom.”
“Hahaha.” Mereka semua ketawa.
Gue hanya diem kesel, di saat gue mau pergi, tangan gue ditarik lagi sama dia.
“mau kemana? cebok dulu.” Dia makin menjadi.
“Hahaha.”
Gue jadi pengen nyate mereka.
Dengan perasaan sedih, gue pun pulang ke rumah. Sampai rumah, gue buka baju, buka celana, masuk ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi, gue nangis…kejer. hehe, enggaklah.
Setahun kemudian, tepatnya sekarang gue udah kelas delapan. Gue udah mulai lupa sama tragedi kentut yang membawa petaka itu. Dan anak–anak kelas tiga (sialan) itu udah pada lulus semua. Dan sekarang gue akan lebih hati-hati untuk ngeluarin kentut, tidak seperti dulu yang begitu arogan.
Waktu itu seperti layaknya pria normal lainnya, gue sempet punya taksiran di kelas gue, namanya Ina (bukan nama sebenarnya, sengaja disamarkan karena menyangkut masa depan dia), di mata gue, dia itu cantik, rambutnya bergelombang, dan immuut banget. Gue tergila-gila pokoknya sama dia. dan katanya, ternyata dia itu seneng banget sama cowok yang pendiam dan tidak banyak tingkah. Pas ni sama gue.
Gue duduk tepat di sebelah meja dia, maksudnya si tidak lain dan tidak bukan agar lebih mudah untuk memandang dia. Gue berusaha menjaga sikap setenang mungkin di hadapan dia. Dan secara kebetulan, teman gue si Riski, pernah mantanan sama si Ina. Jadi gue bisa tanya langsung ke Riski apa aja yang disukai Ina.
“ki, Ina kan mantan lo,” gue berusaha mencari tahu “lo tahu gak dia itu suka sama cowok yang kaya gimana?”
“kenapa lo nanyain dia, suka lo?” sahut riski.
“gile, ya enggaklah. Gue mau tahu aja.”
“dia itu suka sama cowok yang..” riski berpikir sesaat “putih, wangi, rapi, pendiem dan gak banyak tingkah.”
Setelah gue diberi tahu sesuatu yang amat penting itu dari riski, gue pun mencoba berubah menjadi seperti yang riski bilang. Gue berubah menjadi: Beras yang dipakein jas dan dikasih minyak wangi (kan katanya putih, rapi, wangi, diem).
Gue berharap si Ina jadi tertarik sama penampilan (konyol) gue.
Sejak saat itu penampilan gue yang sebelum nya acak-acakan, bau dan dekil, seketika berubah menjadi sedikit tidak acak-acakan yang tadinya bau amis jadi wangi kumis, yang tadinya dekil sekarang jadi sedikit tidak dekil lagi. Ini semua gue lakukan demi Ina.

Saat pelajaran pendidikan kewarganegaraan, seperti biasa kelas gue sangat ramai. Ini dikarenakan guru mata pelajaran itu sangat asik dan menyenangkan. Tidak seperti pelajaran-pelajaran lain, di pelajaran ini gue merasa bebas seperti burung lepas. Gue hanya becandaan, sambil cekikikan sama teman sebangku gue, si Kevin. Kita ngomongin apa aja yang kita anggap lucu.
“pan, pan, lihat ge tu,” kata Kevin, menunjuk rambut Aisa.
Aisa adalah seorang wanita yang mempunyai kulit hitam pait dan rambut yang keriting. Dia duduk tepat di depan gue. Dan dia merupakan korban yang paling sering gue dan Kevin kerjain.
“kenapa dia?.” gue nanya, sambil memperhatikan rambut Aisa.
“lihat yang jelas ge,” Kevin ngomong sambil cekikikan “rambut dia ada tai kayunya”
“Hahaha, iya benar. Kok bisa kaya gitu ya.” Gue merasa takjub dengan kejadian yang ada di depan mata gue.
“hehe, gue yang ngasih itu ke rambutnya.”
“haha, iseng amat lo. Haha”
Kevin begitu profesionalnya mengerjain orang, bahkan korbannya tidak menyadari sama sekali bahaya yang sedang mengancam keindahan rambutnya.
Intinya hari itu gue seneng bener, gue sama Kevin bagaikan sepasang setan dari neraka yang mengganggu ketenteraman kelas. Semua kejadian di dalam kelas saat itu gue anggap lucu aja, apadahal itu semua biasa aja.
Seperti saat si riski yang gak bisa ngerjain tugas yang diberikan guru di depan kelas, gue dan Kevin ngetawain si riski dengan biadabnya. Ya walaupun akhirnya Kevin juga disuruh maju dan dia juga gak bisa ngerjain itu tugas. Atau saat gue dan Kevin ngetawain mukanya si asep yang begitu aneh (walaupun setiap hari memang kaya gitu mukanya, tapi hari itu gue merasa lucu aja melihat muka asep).
Berkali-kali kita ditegur dengan guru karena kelakuan kita yang gak mau diem itu. Tapi kita gak terlalu memperdulikannya, teguran guru kita anggap seperti angin lalu yang masuk dari kuping kanan, keluar di mulut kiri (Lho).
Sampai pada akhirnya, ada satu kejadian yang berhasil membuat kita diem pada hari itu.
Saat kita lagi enak-enaknya ketawa lebar, gue dengan tololnya lagi-lagi ngentut… lagi. BRROOTT.
Suara kentut gue yang keluar hari itu sangat besar, sampai-sampai terdengar ke benua amerika. Ini adalah suara kentut yang begitu besar yang pernah gue keluarkan di hadapan orang banyak, didengar oleh puluhan pasang kuping. Dan sukses membuat seisi kelas menjadi diem.
Kevin yang tadinya cekikikan, tiba-tiba jadi diem. Seisi kelas melihat ke arah gue dan Kevin. Dan gue udah siap kalau memang harus dirajam.
Lima detik kemudian seisi kelas ketawa dengan riang gembira.
“Hahaha.”
“Hehehe.”
“Hohoho.”
“haha, siapa itu yang ngentut?” kata rehan
“Hahaha.” semua kembali gembira.
Gue dan Kevin malah ikutan ketawa.
“Kevin NGENTUT.” Teriak dika dari kejauhan.
Mendengar hal itu, otak licik gue pun bekerja. Gue malah ikutan nuduh Kevin sebagai dalang dibalik kerusuhan ini.
“iya ni woy Kevin yang ngentut, haha.” Gue nuduh Kevin, sambil nunjuk dia.
Mendengar gue ngomong kaya gitu, Kevin langsung berusaha membela diri dengan ngomong “bukan gue yang ngentut, bukan gue.” muka Kevin makin serius “ni, si irfan ni yang ngentut.” Kevin nunjuk-nunjuk muka gue.
Pernyataan Kevin tersebut tidak begitu dipedulikan oleh mereka. Malah, sebagian besar menuduh bahwa Kevinlah dalang dibalik pemboman ini. Hanya sebagian kecil saja yang menuduh gue.

Masalahnya, sepertinya Ina tahu kalau guelah yang sebenarnya ngentut. Berhubung Ina duduknya di sebelah meja gue, pasti dengan jelas dia mengetahui semua ini. Mampus.
Gue memandang ke arah Ina, ternyata dari tadi Ina telah ngelihatin gue. dia ngelihat dengan muka jijik ke arah gue. Gue malu banget saat itu, rasanya gue ingin ngomong “tenang na, tadi itu bukan gue, tapi calon anak gue.”

Mungkin sejak saat itu ina menjadi ilfil dengan gue. Setiap kali gue mencoba mendekatinya, dia malah menjauh dari gue. Kayak jaga jarak gitu. Saat itu gue tahu, kalau kentut itu merupakan ilmu mejik. Yang dapat mempengaruhi setiap pendengarnya. Ajaib.

Sampai sekarang, saat gue telah SMA, gue masih aja dihantui ketakutan akan ngentut. Setiap kali gue meras ingin ngentut, gue selalu cepet-cepet lari dari keramaian, menuju ke tempat sepi. Biasanya di tempat sepi itulah gue ngeluarin angin sorga itu.

Kelakuan gue yang satu ini membuat temen-temen gue menjadi penasaran, mereka selalu bertanya dengan gue.
“kenapa lu pan sering bener kalau lagi ngumpul kaya gini tiba-tiba pergi, dateng lagi, pergi lagi?”
“tenang coy, gue kayak gini demi kebaikan lo orang juga kok.” Jawab gue santai.

The Yellow Pants

November 24, 2018 0
The Yellow Pants
Cerpen karangan : Faisal Ramadhan
Kategori Cerpen : Lucu


“Oyy Cekung, lu nanti ikut nonton konser gak?” tanya Rio ke gue, yang tak lain adalah sahabat gue. “Ikut gue io, kabarin aje,” jawab gue santai. “Siap deh, tapi inget jangan sampe kuning lagi celana lo,” gurau Rio sambil cekikikan. “Wah lu masih manggil gue cekung aja udah hampir melayang sendal gue ke muke lu, apalagi lu bahas tuh tragedi,” gue balas gurauan sambil agak menggertak. “Hahah iya iya ampun bang,” jawab Rio sambil melanjutkan cekikikannya.
Begitulah sekarang. Beberapa temen gue sering memanggil gue Cekung, yang kepanjangannya adalah celana kuning. Yang jelas nama asli gue Tejo bukan Cekung. Seorang pemuda labil yang baru lulus kuliah. Banyak temen gue yang bilang kalau gue itu pinter, tapi bodoh. Maksudnya adalah gue itu pinter kalo dalam hal materi pelajaran atau membahas teori, tapi gue bodoh dalam menggunakan akal gue untuk menyelesaikan masalah. Jadi bisa dibilang gue itu sering bertindak bodoh dalam menyelesaikan masalah. Dan gue akuin itu semua.

Hingga suatu saat sebuah kesialan menimpa diri gue melalui kejadian memalukan yang menjijikan. Dalam kejadian ini juga kebodohan gue mencapai puncaknya. Kejadian ini juga menjadi penyebab gue bisa sampai dipanggil si Cekung atau celana kuning sama teman-teman gue. Dan yang paling parah, kejadian ini terjadi di hari ulang tahun gue. Semua itu berawal sekitar 4 bulan yang lalu. Waktu itu…

Gue lagi berada di kostan, baru bangun tidur pagi pagi sekitar pukul 7:45. Perut gue bunyi berulang-berulang, ibarat singa yang menggonggong minta dikasih daging onta. Gue langsung membuka tudung saji di meja makan kecil kosan gue. Sayang sekali, yang gue liat cuma potongan-potongan tulang ikan yang dagingnya udah pindah ke perut gue kemarin. Gue pun beralih ke makanan sejuta umat, yaitu mie instan. Tapi ternyata gue baru inget kalo gue belom nyetok persediaan mie instan gue. Kalau udah begini, mau gak mau gue harus pesan atau keluar dulu cari makanan. Tapi karena gue bangunnya kesiangan dan ada janji untuk menghadiri tes wawancara kerja, gue jadi gak punya banyak waktu. Makanya buat jaga-jaga mendingan gue puasa dulu sebentar sampai selesai wawancara. Walau sebenarnya perut gue udah keroncongan.
Tapi tunggu, gue mendengar ada seseorang mengetuk pintu kamar kosan gue. Pas gue buka, ternyata itu adalah Buluk Man alias Bu Lukman yang tak lain dan tak bukan adalah Ibu pemilik kosan gue. Kali ini dia datang bukan untuk menagih uang sewa melainkan mau ngasih sampel menu masakan barunya. Dia memang udah biasa ngasih sampel masakan ke orang-orang kos untuk mempromosikan usaha keteringnya. Dan itu adalah kebiasaan yang sangat gue suka dari Bu Lukman. Terutama disaat-saat terdesak seperti ini.
“Aduh makasih banyak Bu, gak usah repot-repot,” gue ucapin rasa terima kasih sambil tersenyum ramah. “Dimakan ya nak, tapi jangan kebanyakan,” balas Bu Lukman yang kata-katanya terdengar sangat lembut. Setelah gue terima piring yang tertutupi tisu itu gue langsung masuk dan menutup pintu. Betapa bersyukurnya gue dengan datangnya rejeki ini. Gue singkirin tisu di atas piring kaca warna biru itu, dan ternyata berisi seporsi nasi dan sebuah plastik bening yang diikat. Gue buka dan gue keluarin sesuatu yang ada di plastik itu ke atas nasi. Ternyata isinya adalah sambal teri yang warnanya merah agak kecoklatan. Baru sedikit gue keluarin ke atas nasi, baunya udah membakar hidung gue. Di situ gue baru mulai mengerti kenapa tadi Bu Lukman bilang jangan makan kebanyakan. Akhirnya gue cuma keluarin seperempat dari semua yang ada di plastik bening itu.
Pas gue coba makan itu sambal teri pakai nasi. Busett, rasanya pedas gila. Tapi sumpah rasanya tuh enak banget. Suap demi suap gue masukkan ke mulut. Sampai akhirnya sambal teri yang ada di piring itu habis tapi nasinya belom. Sempat ragu buat gadoin nasi atau nambahin sambal biar lebih sedap. Tapi karena gue yakin perut gue ini sekuat perut badak, gue tambahin lagi sambal teri Bu Lukman itu. Hingga akhirnya nasi yang ada di piring itu habis dan tanpa diduga sambal teri yang di plastik juga.
Sampai 4 gelas air mineral gue habisin buat menghilangkan pedas. Habis itu gue langsung mandi setelah melihat jam weker gue yang gak ada berhentinya bikin panik. Selesai mandi gue pakailah kemeja biru dan celana panjang hitam favorit gue yang belom dicuci dari pas waktu beli (tapi belinya baru 3 hari yang lalu). Gak lupa juga gue pakai parfum supaya gak bau (alias wangi) dan pomade biar rambut gue kelihatan licin. Gue juga bawa tas ransel yang isinya berkas-berkas penentu nasib. Sampai akhirnya rapih lah sudah Tejo yang tampan ini. Gue ke parkiran kos buat berangkat naik motor. Gak lupa juga gue panasin dulu. Lima menit setelah mesin motor gue nyalain, gue pun berangkat.

Perjalanan terasa lambat karena agak macet. Matahari juga sudah semakin terik, membuat gue lepek keringetan. Sampai akhirnya di tengah kemacetan yang kayaknya masih lama dan putar balik pun gak bisa, tiba-tiba perut gue panas serasa ditembak laser. Setelah gue rasakan lagi, panasnya semakin menjadi hingga akhirnya gue menyadari kalo gue telah mendapat panggilan alam (alias mulas) yang udah sangat kronis. “Aduh mampus gue!” gumam gue di dalam helm. Gue bingung harus kemana buat hajatan (eh maksudnya buang hajat). Dengan terpaksa gue kerahkan seluruh otot-otot yang ada di sekitar lubang hitam gue buat nahan dorongan super itu. Dan sepertinya itu berhasil. Rasa panas di perut gue sesekali mulai hilang. Tapi setiap sekitar semenit akan muncul lagi, dan itu pun terjadi berulang kali selama 17 menit. Sampai akhirnya gue tiba di depan lampu merah yang menjadi ujung kemacetan.

Gue menunggu lampu berwarna merah itu yang rasanya gak kunjung hijau. Perut gue rasanya udah kayak dilipet-lipet. “Semp*k! Lama banget ijonya,” kata gue dalam hati dengan jengkelnya. Ketika gue udah hampir putus asa. Tiba-tiba lampu tersebut berubah kuning. Dan akhirnya hijau. Langsung gue tancap gas setancap-tancapnya. Motor gue langsung melaju sangat kencang bagai di sirkuit MotoGP. Biasanya gue paling gak suka melihat orang ngebut di jalan raya. Tapi sekarang gue baru sadar kalau alasan orang kebut-kebutan di jalan raya itu bisa jadi sama seperti alasan gue.
Motor gue melesat kencang hingga akhirnya gue bertemu tempat dengan papan besar yang bertuliskan “PERTAMINA”. Gue seneng banget bertemu itu tempat. Kali ini bukan karena gue butuh bahan bakarnya, melaikan toilet umumnya. Gue langsung menikung tajam bagai Valentino Rossi yang mau menyalip Marc Marquez. Gue parkir motor gue deket pintu masuk toilet umum. Gue langsung memilih secara acak salah satu bilik toilet umum tersebut dan mencoba masuk. “WOY!” seruan seorang bapak-bapak dari dalam toilet mengagetkan gue seraya gue sadar kalau pintunya ternyata dikunci.
Gue pun beralih ke bilik selanjutnya namun juga dikunci, begitupun bilik selanjutnya. Wajah gue udah mulai pucat. Tapi ternyata gue kedapatan bilik yang paling kiri tidak dikunci dan masih kosong. Dengan terburu-buru gue masuk, menggantungkan ransel, melepas celana (sekilas gue liat celana dalam gue takutnya ada yang lolos, tapi untungnya engga) kemudian gue jongkok di atas sebuah permadani berlubang (alias jamban). Waktu gue udah jongkok, gue gak langsung melepas semua pertahanan gue. Karena gue takut akan terdengar suara tembakan pistol revolver. Jadi terpaksa gue cicil. Seenggaknya gue masih punya rasa malu.
Selesai sudah gue melepas hasrat, dan gue pun segera beristinja. Gue nyalain keran di atas ember kosong dalam toilet. “Anjr*t, kenapa lagi nih?” kata gue sambil panik dan kebingungan. Ternyata keran di toilet gue gak bisa nyala entah kenapa. Gue putar bolak-balik tuas keran sialan itu sampai-sampai mau copot, tapi tetap gak keluar air. Gue melihat-lihat sekeliling ruangan toilet yang gue pilih itu, berharap akan menemukan sumber air lain (selain air jamban). “What the Fu*k??” gue teriak dengan suara berbisik. Gue terkejut melihat ada kertas yang ditempel tepat di tembok belakang kepala gue, yang berisi tulisan “toilet rusak”. Sial! Gue udah masuk ke jebakan betmen. Kenapa gak pasang peringatannya di depan sih!

Kebingungan dan perasaan panik mulai menyerang gue. Tapi gue tetap berusaha menenangkan diri supaya pikiran gue tetap jernih. “Duh gimana cara gue cebok kalo begini?” keluh gue bingung. Hingga akhirnya gue mendapat sebuah ide. Yaitu dengan menggunakan kertas. Ya. Kertas dari berkas-berkas penentu nasib yang ada di ransel gue tadi. Gue ambil beberapa carik kertas yang gak terlalu penting buat beristinja, terus gue buang ke pojokan toilet. Berharap gak ada yang menemukannya nanti. Sumpah ini hal paling menjijikan yang pernah gue lakukan dan gue lakukan itu semua sesuai naluri gue aja.

Istinja gue akhirnya selesai dan gue juga udah selesai pakai celana. Tapi masih ada yang jadi masalah. Gimana cara gue melenyapkan selai kacang almond (alias tinja) yang barusan gue keluarin di jamban? Pertanyaan ini sungguh membuat gue kebingungan. Gue lihat jam tangan gue buat mengecek waktu. “Gila! Udah 30 menit gue nongkrong disini. Gue bisa telat!” kata gue dalam hati. Akhirnya daripada kelamaan berpikir, gue tutupin aja jamban di toilet itu pakai ember kosong yang ada di bawah keran tadi (oh maafkan gue cleaning service, gue terpaksa). Manusia macam apa gue ini. Habis itu, gue langsung melesatkan lagi motor gue ke tempat tujuan dengan perasaan bersalah.

Setelah sekitar 25 menit, akhirnya gue sampai di tempat tujuan kemudian memarkirkan motor. Gue lihat lagi jam tangan gue dan ternyata udah menunjukkan pukul 9:50, padahal wawancaranya dimulai pukul 9:30. Gue langsung ngibrit masuk ke dalam gedung yang lumayan besar itu dan menuju ke ruangan tempat gue akan melakukan wawancara. 10 menit gue muter-muter nyari ruangan yang udah ditentukan itu tapi gak ketemu-ketemu, hingga akhirnya gue nyerah dan mendapat ide untuk bertanya ke resepsionis (duh ngapa gak dari tadi sih). Setelah gue bertanya, gue pun diberi tahu kalau ruangannya ternyata ada di lantai 3.

Sesampainya di depan ruang wawancara, gue lihat masih cukup banyak orang yang menunggu giliran. Sambil ngos-ngosan dan keringetan gue bertanya ke mas-mas yang juga lagi menunggu giliran, “Misi mas, tadi nama saya udah dipanggil belom?” “Lah nama situ siapa?” jawab mas-mas itu bingung. “Oh iya, nama saya Tejowanto mas,” kata gue sambil menjulurkan tangan untuk berjabat. “Rei,” balas mas-mas itu sambil berjabat tangan sama gue “belom denger ada nama Tejowanto dipanggil sih dari tadi, baru juga 4 orang yang udah dipanggil,” lanjutnya dengan sangat yakin. Gue lega mendengar itu, dan gue pun duduk di salah satu bangku tunggu. Gue mulai menenangkan diri. Seketika gue baru sadar kalau gue dari tadi belom cuci tangan (duh sorry mas Rei). Sehingga gue memutuskan untuk ke toilet terdekat buat cuci tangan dan merapihkan diri gue yang udah jadi kucel ini.
Setelah gue selesai dari toilet, gue berjalan kembali menuju ruangan tadi. Belom sampai ke ruangan tadi, sama-samar gue mendengar suara bapak-bapak, “Tejowanto.. diharapkan masuk ke ruangan.” Gue kaget dan langsung segera lari ke sumber suara. “Tejowanto.. Mana nih yang namanya Tejowanto?!” lanjut bapak-bapak tadi yang mulai kesal. Gue pun sampai ke tempat sumber suara yang ternyata dari pintu ruangan tempat gue akan melakukan wawancara. “Saya saya pak. Maaf tadi saya abis dari toilet,” jawab gue dengan wajah yang agak panik. Bapak-bapak yang manggil gue barusan malah kelihatan sebel. Gue pun dipersilahkan masuk.
Di dalam ruangan yang dingin itu gue lihat ada 3 orang pewawancara dan menurut gue wajah mereka sangar-sangar. Mereka duduk berjajar di sebuah meja besar bagai juri Indonesian Idol. Sambil cengar-cengir dan agak gemeteran gue mengajak mereka berjabatan tangan satu per satu. Gak ada satu pewawancara pun yang membalas cengiran gue, membuat gue jadi semakin gugup, hingga akhirnya gue dipersilahkan duduk. Gue duduk di bangku kecil menghadap para pewawancara tanpa dikasih meja, bahkan gue gak disuguhin makanan apapun. Suasananya tegang serasa seperti mau disidang. Entah karena suhu yang terlalu dingin atau karena deg-degan, tiba-tiba gue merasa perut gue mulai panas lagi. “Duh jangan sekarang dong plis,” kata gue dalam hati sambil menunjukkan wajah yang mulai tegang. Dan benar saja, panggilan alam kembali menyerang gue tanpa ampun, dan kali ini dengan kekuatan dua kali lipat. “Sialan nih sambel teri, kejem banget sama gue,” gue ngomel-ngomel sendiri dalam hati.

Para pewawancara masih sibuk bolak-balik berkas yang mereka pegang. Gue. Gue mendadak kaku, sesak napas, dan wajah gue terlihat kayak orang lagi mengangkat barbel. “Anjr*t gimana nih? Malah udah di ujung lagi,” gue bergumam dalam hati. Disaat gue sedang benar-benar fokus sama pertahanan gue, tiba-tiba seorang pewawancara bertanya, “Jadi enaknya kami harus memanggil anda siapa?” Spontan gue kaget dan menjawab, “Ujung pak!” Para pewawancara mengkerutkan dahi dan menatap satu sama lain seperti kebingungan. Gue pun tersadar kalo gue udah salah jawab. “Eh maksud saya…” belom selesai gue mau jawab lagi, gue pun kehilangan fokus ke pertahanan gue, dan “Prett… prepett.. prett..” Pertahanan gue jebol! Gue melotot sambil panik, kaget dan gak percaya sama apa yang baru aja terjadi. Gue lihat para pewawancara juga melotot kaget mendengar suara tadi. Seketika semua diam seolah waktu berhenti. Disaat itu juga gue sangat berharap seorang sniper menembak gue dari jauh.
“Apa itu?” Seorang pewawancara akhirnya bicara setelah kesunyian yang terjadi. Pertanyaan itu benar-benar membuat gue panik dan bingung mau jawab apa. Tadinya gue mau jawab itu suara ringtone hape. Tapi karena aroma ruangan yang udah mulai gak sedap akhirnya gue pun, “Aduhh sorry pak! Saya harus pergi.” Gue lari-lari meninggalkan ruangan itu kayak anak TK yang mencari emaknya. Bukan hanya keluar dari ruangan itu, tapi gue juga berusaha keluar dari gedung itu lewat pintu darurat. Gue gak tahu deh gimana orang-orang disana melihat gue. Rasanya kalo bisa gue potong urat malu gue, pasti gue lakuin. Pokoknya yang ada dalam pikiran gue itu adalah pergi dari gedung itu dan secepatnya pulang ke kosan gue.

Gak makan waktu lama gue pun sampai di parkiran sambil ngos-ngosan dengan keringet yang segede-gede biji jagung. Gue duduk di jok motor gue sambil membawa beban di celana gue yang udah mulai menyebar (rasanya dingin-dingin gimana gitu). Tanpa berpikir panjang, gue langsung melesat menuju ke kosan gue.

Selang beberapa lama, gue pun sampai di kosan gue. Perjalanan gak terlalu lama karena udah gak macet. Dengan segera gue lari menuju ke kamar kosan gue. Berharap secepatnya sembunyi dari manusia-manusia yang ada di bumi ini. Suasana kos sedang sepi waktu itu. Sesampainya di depan kamar kosan, gue keluarin kunci pintu sambil tergesa-gesa. Disaat pintu kamar kosan gue terbuka dan gue masuk, ternyata oh ternyata. “Surprise!” Gue lihat ada beberapa orang sahabat gue dan salah satunya membawa kue tart yang dipasangin lilin berbentuk angka 22. “Happy Birthday Tejo!!” mereka teriak serentak dengan senangnya. Arghh! Gue baru inget kalo ini hari ulang tahun gue. Dan ini juga akibat gue ngasih izin para sahabat terdekat gue bebas keluar masuk kamar kosan gue.

Seketika gue terdiam dengan wajah terkejut. “Ewhh apaan tuh kuning-kuning di celana lu Jo?” “Astaga! Lu cepirit Jo??” Beberapa sahabat gue malah tanya-tanya. Gue pun kejang-kejang dan akhirnya pingsan. Semenjak saat itu lah gue jadi sering dipanggil Tejo si celana kuning.

TAMAT

Thursday, 22 November 2018

Ucok Si Jomblo Abadi

November 22, 2018 0
Ucok Si Jomblo Abadi
Cerpen Karangan : Faisal Ramadhan
Kategori : Cerpen Lucu

Konon pada zaman dahulu kala, ada seorang Siluman Kera yang dikurung di sebuah gunung karena telah mengacaukan kerajaan langit. Namanya adalah Sun Go Kong, namun cerita itu adalah cerita tentang Kera Sakti dan tidak hubungannya dengan cerita ini, jadi penulis tidak akan menceritakannya.

Suatu malam yang terang benderang dibawah sinar petromax, seorang pemuda yang wajahnya kelihatan tua terlihat menulis di sebuah catatan yang nampak usang. Namanya adalah UCOK, dari namanya sudah bisa ditebak bahwa Ucok adalah pemuda asli SUNDA. Ayahnya adalah orang TURKI (Turunan Kidul) dan Ibunya asli PERANCIS (Perapatan Ciamis). Ucok lahir di Ambon dan besar di Papua. Oleh karena itu Orangtuanya menamakan dia Ucok. Nama dan asal usulnya benar-benar tidak sinkron, sungguh aneh kedua orangtua Ucok ini.
Ucok adalah anak TUNGGAL yang paling BUNGSU. Sebagai anak Sulung yang paling muda, dia harus memikul beban di pundaknya sebagai Kepala Keluarga. Itu dikarenakan Ayahnya Ucok yang berasal dari TURKI bernama NARUTO, telah tewas ketika mengemban tugasnya sebagai Hansip di Kampung Tumaritis. Naruto tewas terkena panah Arjuna yang merupakan pencuri HATI wanita di kampungnya.
Ketika itu, Naruto berhasil menggagalkan aksi tercela Arjuna yang hendak mencuri hati Ayu Ting-tong, “kembang pasir” dari Kampung Face B*ker. Kendati berhasil menggagalkan aksi pencurian Arjuna, tindakan heroik tersebut harus dibayar mahal Naruto yang harus kehilangan HATINYA karena dicuri Arjuna. Akhirnya Naruto meninggal karena sakit LIVER, akibat hatinya yang telah hilang.
Sejak saat itu Ucok menjadi Kepala Keluarga, bekerja keras membanting tulang dan memeras keringat untuk memenuhi kebutuhan nafkah keluarganya. Bahkan demi menggantikan peran Sang Ayah sebagai kepala keluarga, Ucok rela meninggalkan Kuliahnya di ‘DANGDUT AKADEMI”.

Kemudian Ucok berikhtiar mencari nafkah dengan mencoba keahlian dan talentanya dengan mengikuti ‘TUMARITIS NEXT TOP MODEL” dan “TUMARITIS IDOL”. Bahkan dia juga ikut casting acara misteri “UKA-UKA TUMARITIS” sebagai pemeran pendukung yang kesurupan. Namun karena dirinya yang serba kekurangan, yaitu kurang ganteng (jelek), kurang tinggi (pendek) dan kurang berani (mental cemen empat roda) akhirnya dia gagal dalam semua ajang tersebut.
Akhirnya, Ucok banting haluan menjadi penjual Cireng Isi Trio Macan dan Tahu Isi Durian. Tanpa diduga, usahanya berhasil dan menjadikan dia seorang pemuda berparas jelek (Apa hubungannya usaha dengan muka jelek?). Dia bahkan sukses meluaskan usahanya di bidang Kuliner. Bekerjasama dengan Mas Ponari dan Om Sumanto, Ucok berhasil menciptakan produk berupa minuman dengan merek “Es Kobokan Ponari” dan produk makanan “Baso Isi Mayat”.
Usahanya ini laku keras, menjadikan Ucok sebagai Milyuner di usia muda, meskipun wajahnya terlihat tua. Demi mempromosikan produknya, Ucok bahkan menyewa Model dan Aktris Terkenal di dunia maupun di akhirat, yaitu ‘SENDAL JENNER” yang merupakan adik dari KIM JONG UN, aktris dari acara Reality Show Termehek-mehek.
Dengan uang hasil usaha dan Pesugihan yang dia dapat, Ucok mampu membeli sebuah Apartemen Riverside (Rumah Pinggir Kali), Mobil Mewah Roda Tiga merk “Maria Marcedes” dan Jam mewah merk “COLEX”.
Tapi dibalik semua kemewahan itu, jauh di lubuk hatinya yang terdalam Ucok merasakan kehampaan tanpa seorang pendamping. Akhirnya dia memasang iklan di Koran untuk lowongan sebagai pendamping hidup, setiap pelamar harus menyertakan Ijazah dan Daftar Riwayat Hidup untuk dia pelajari.
Pada suatu waktu, ketika Ucok hendak pulang ke rumahnya, tanpa sengaja dia melewati Jembatan Ancol. Tanpa diduga, dia melihat seorang wanita cantik berbaju putih berambut panjang dan wajah rupawan mirip dengan Dewi Persik, pemeran Kuntilanak dalam sebuah film romantis.
Wanita tersebut berada di mulut jembatan, menatap aliran sungai dibawahnya dengan tatapan kosong, seolah siap melompat mengakhiri hidupnya. Melihat hal itu, Ucok bergegas turun dari Mobil Bemo antik kesayangannya. Dengan pelan Ucok mendekati wanita tersebut untuk menyapanya.
“Maaf Mba! sebaiknya menjauh dari pinggir jembatan tersebut! bahaya!” ucap Ucok dengan logat Jawa yang khas.
Ketika mendengar suara Ucok, si Wanita kemudian mengibaskan rambut lebatnya persis dengan iklan shampoo di TV agar terlihat keren. Lalu ia menoleh ke arah Ucok. Dengan raut muka kaget dan penasaran, dia bertanya.
“Mas bisa lihat saya? Mas ini siapa?” tanya si wanita tersebut.
“Nama saya Ucok, saya tinggal di Apartemen pinggir Kali Ciliwung! Kebetulan saya lewat sini dan melihat Mba yang terlihat murung! Akhirnya saya turun dan mencoba untuk menawarkan bantuan kepada Mba!” ucap Ucok dengan nada khawatir. Sejurus kemudian Ucok melanjutkan perkataannya.
“Mba namanya siapa? Apa ada yang bisa saya bantu? Kalau Mba gak keberatan, saya bisa antar Mba pulang, karena hari sudah malam, tidak baik wanita pulang sendirian di malam hari, banyak begal Mba!” ucap Ucok menawarkan tumpangan untuk pulang kepada si wanita.
“Nama saya Maryam, panggil saja Mawar! Saya tinggal di Tanah Kusir, kalau Mas Ucok gak keberatan, saya bersedia diantar pulang Kok!” ucap Maryam dengan nada malu-maluin.
“Ah, gak keberatan kok! asal jangan digendong kaya Mbah Surip!” ucap Ucok sembari tersenyum.
Akhirnya Maryam menaiki Mobil Bemo Antik milik Ucok untuk kemudian diantarkan pulang ke rumahnya di Tanah Kusir. Kendati baru kenal dan bertemu, Ucok dan Maryam alias Mawar nampak akrab dan mesra layaknya pasangan Ahmad Dhani dan Mulan Jamila.
Mereka terlihat asyik masyuk bercerita tentang Syaiful Jambal yang masuk jeruji karena mengebor saluran pembuangan hingga bubarnya Band Fenomenal Kangen Rindu Band. Dengan Nada mirip Fenie Rose, Maryam alias Mawar yang sangat suka bergosip menceritakan tentang dirinya yang merupakan penggemar Penyanyi kharismatis dan tampan, KIWIL.
Ucok yang memperhatikan Maryam alias Mawar rupanya terpesona dengan kecantikannya yang natural dan alami, mungkin karena Maryam sering mengkonsumsi Natur-F. Begitu juga dengan Maryam alias Mawar, terpesona dengan wajah Ucok yang AWET TUA, meskipun dirinya masih muda.
Mereka berdua saling berpandangan tanpa kata, persis adegan video klip RAN “Dekat di Hati”. Ucok yang terlihat suka dengan Maryam alias Mawar tidak lagi bisa membendung dirinya untuk mengungkapkan rasa sukanya kepada Maryam. Dia pun lalu berkata kepada Maryam dengan nada lembut, selembut bedak bayi Talicyl.
“Mawar, saya tahu kita baru bertemu dan berkenalan! tapi meski begitu, saya sudah jatuh hati kepada Mawar! maukah Mawar menerima cinta saya!” ucap Ucok dengan nada lembut.
Mendengar ucapan Ucok, hati Maryam alias Mawar berdetak kencang. Dia tidak menyangka Ucok memiliki perasaan yang sama dengan dirinya. Namun dia harus berkata jujur kepada Ucok tentang dirinya yang sebenarnya. Sembari menarik napas panjang, Maryam berkata kepada Ucok.
“Mas Ucok, Mawar mau berkata jujur! Mawar bersedia menerima cinta Mas Ucok, tapi dengan syarat bila Mas Ucok bersedia menerima Mawar apa adanya!” ucap Mawar dengan nada sedikit khawatir.
Mendengar ucapan Mawar, Ucok menganggukkan kepalanya dan berkata.
“Mas Ucok siap menerima diri Mawar apa adanya!”
Dengan raut muka kaget, Mawar kemudian mulai kembali berkata.
“Mawar sebenarnya adalah Putri Dedemit dari Kerajaan Jin Pantai Laut Utara (PANTURA). Mawar melarikan diri dari rumah karena tidak mau dijodohkan dengan seorang Pangeran dari Korea bernama Lee Min Ho. Tapi Mawar menolaknya karena Lee Min Ho adalah Pangeran yang gemar berj*di dan main Gapleh. Akhirnya Mawar melarikan diri dan berniat mengakhiri hidup dengan meloncat dari Jembatan Ancol! tapi Mas Ucok menyelamatkan Mawar dan membuat Mawar jatuh hati! Jadi, apa Mas Ucok bersedia menerima Maryam alias Mawar apa adanya?” ucap Maryam alias Mawar.
Selesai mendengar penuturan Maryam alias Mawar, Ucok tampak terkesiap dibuatnya. Dia tidak menyangka bahwa Mawar adalah Putri Jin dari PANTURA. Awalnya dia menyangka jika Mawar adalah aktris Jessica Mila yang bermain di Sinetron GGG (Ganteng Ganteng G*y). Namun, sebagai lelaki sejati, Ucok harus menerima diri Mawar apa adanya, karena itulah yang dikatakan sebagai bentuk cinta citata.
“Mawar, Mas Ucok bersedia dan ikhlas menerima Mawar apa adanya!” Ucap Ucok dengan raut muka tersenyum.
Mawar yang mendengar jawaban Ucok sumringah, dia tidak menyangka jika Ucok bersedia menerima dirinya sebagai Putri dari Kerajaan Jin PANTURA. Akhirnya mereka berdua berpelukan, mirip dengan adegan romantis di Film “KUCH KUCH HOTA HAI”.
Setelah kejadian itu, Ucok melamar Maryam alias Mawar kepada kedua orangtuanya dan resmi menjadi pasangan suami istri. Dari hubungan tersebut Maryam melahirkan anak bernama Afgan Istan dan Raiso opo opo yang kemudian akhirnya menjadi penyanyi terkenal di Jagat Hiburan bangsa dedemit.

Tamat

The Lord of Cincin Batu Akik

November 22, 2018 0
The Lord of Cincin Batu Akik
Cerpen Karangan : Faisal Ramadhan
Kategori : Cerpen Lucu

Suatu malam di dunia hitam, hiduplah seekor, sebutir, seorang, apapun kalian menyebutnya, makhluk dari ras tuyul bernama Ucrit. Dia mendapat tugas dari bangsa tuyul untuk menghancurkan Cincin Batu Akik Sakti milik Raja Genderuwo bernama GERANDONG.
Selama ini, bangsa tuyul selalu ditindas oleh bangsa Genderuwo, mereka dipaksa menjadi budak bangsa Genderuwo untuk menjadi pekerja paksa di toko KRABBY PATTIES milik TUAN KRABS untuk membuat makanan untuk bangsa Genderuwo. Dibawah pimpinan Rajanya yang bernama Gerandong, bangsa Genderuwo tak terkalahkan.
Namun semua kekuatan milik Gerandong ternyata berasal dari Cincin Batu Akik miliknya. Cincin Batu Akik tersebut didapatkan Gerandong dari kontes DEDEMIT IDOL. Gerandong berhasil menjuarai kontes tersebut setelah mengalahkan para pesaingnya seperti SUKETI, MAK LAMPIR dan PICCOLO dari Planet Dragonball. Sebagai hadiahnya, Gerandong berhak mendapat Cincin Batu Akik yang memiliki kesaktian. Salah satu kesaktian dari Cincin Batu Akik tersebut adalah MENUMBUHKAN RAMBUT di kepala seseorang. Para bangsa Tuyul yang terkenal botak, kontan ketakutan dengan kekuatan Cincin Batu Akik milik Gerandong tersebut. Hingga akhirnya bangsa Tuyul takluk dan hormat kepada pembina upacara, eh maksudnya Gerandong.

Suatu waktu, ketika Gerandong hendak ke WC karena kebelet kencing, tanpa sengaja dia meninggalkan Cincin tersebut. Hingga akhirnya cincin tersebut ditemukan oleh Tesy Kabul anggota Srimulat, tapi karena dia sudah punya banyak cincin batu akik, akhirnya cincin tersebut dibuang ke hatimu, eh salah, maksudnya dibuang ke Sungai Ciliwung.
Cincin tersebut mengalir sampai jauh, mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra (Kok jadi lagu Ninja Hatori?). Sesampainya di Glodok, seorang Hansip bernama NARUTO menemukan cincin tersebut dan memberikannya kepada Ucrit karena dia kalah main GAPLEH dengan Ucrit. Ucrit kemudian segera menemui para Ketua DEWAN PERWAKILAN TUYUL. Oleh mereka, Ucrit diperintahkan untuk membawa Cincin Batu Akik tersebut untuk dihancurkan di Kawah GUNUNG SAHARI di Jakarta Pusat, dekat toko matrial milik Koh Acong.
Akhirnya Ucrit setuju, dengan membawa serta para Tuyul yang ahli di bidangnya masing-masing. Ucrit berangkat bersama 4 tuyul bernama Ucrat, Ucrut, Ucret dan Ucrot. Oleh Ketua Dewan Perwakilan Tuyul, mereka berlima disebut persaudaraan CRAT CRIT CRUT CRET CROT, atau disingkat 5C.
Kelima tuyul tersebut memiliki keahlian tersendiri. Ucrat adalah Sarjana Sulap, dia adalah lulusan dari Universitas Sulap-sulapan yang dipimpin oleh Pak Tarno Prok-prok-prok sebagai Rektornya. Ucrit adalah Sarjana Keuangan alias ahli nyolong uang, dia lulusan dari Akademi Keuangan Tuyul yang dipimpin oleh Profesor Ucil. Sedangkan Ucrut Sarjana Gombal, dia ahli merayu baik pria, wanita bahkan waria. Ucret adalah Sarjana Tanpa Tanda Jasa, sesuai dengan namanya juga, dia tidak punya keahlian yang menonjol. Dan Ucrot adalah Sarjana Teknik Mesin, dia ahli membuat mesin yang memudahkan bangsa tuyul mencukur kepalanya.
Bersama mereka berangkat menempuh perjalanan panjang dan berat menuju Kawah Gunung Sahari. Banyak hal menghambat perjalanan mereka, seperti ketika melewati Jalur Pantura, banyak makhluk waria yang menghalangi mereka. Tapi, dengan kemampuan Ucrut merayu, semua waria tersebut akhirnya bisa diatasi. Ketika mereka melewati Terowongan Casablanca, mereka dihalangi oleh setan VALAK dari film THE CONJURING 2, namun Ucrat menyulap Valak menjadi Miley Cyrus, hingga akhirnya mereka berdua berpacaran.
Mereka terus melanjutkan perjalanan hingga sampai di sebuah tempat bernama DESA KONOHA. Disana mereka bertemu dengan Kepala Desa yang bernama KI JOKO BODO. Ki Joko Bodo berkata, mereka kesulitan untuk mencukur rambut dan jenggotnya, hingga akhirnya jenggot Ki Joko Bodo mencapai 2,5 cm. Ucrot yang Sarjana Teknik Mesin, menciptakan mesin cukur jenggot dan rambut hingga akhirnya mereka berhasil melewati Desa Konoha.
Hambatan kembali terjadi ketika mereka sampai di Sekolah yang tak terpakai di NIGERIA INTERNATIONAL SCHOOL, mereka dihalangi oleh para Guru Honorer yang gajinya belum dibayar oleh pihak sekolah. Ucret yang seorang Sarjana Tanpa Tanda Jasa, mengerti kepedihan dan kesulitan para Guru Honorer tersebut, akhirnya, mereka pun dibolehkan lewat.
Hambatan terakhir mereka adalah melewati Gunung Lima Jari yang terkenal angker. Tanpa diduga, mereka bertemu penghuni Gunung Lima Jari yang bernama Sun Go Kong, dia tampak santai menyantap somay dan es jeruk kendati ditindih oleh Gunung Lima Jari. Ucrit yang fans berat Sinetron Kera Sakti, segera meminta tanda tangan Sun Go Kong dan foto bareng untuk dijadikan kenang-kenangan.
Akhirnya, mereka tiba di Gunung Sahari, tempat dimana Cincin Batu Akik tersebut akan dihancurkan. Ketika mereka tiba, kekacauan terjadi di Gunung Sahari, banyak orang yang berlarian karena takut dirazia Satpol PP. Ucrit tidak hilang akal, dia memanggil awan Kinton hadiah dari Sun Go Kong untuk membawanya ke Kawah Gunung Sahari. Namun sayang, keempat kawannya tertangkap razia satpol PP karena lengah sedang makan Bakso Tikus ketika razia terjadi.
Ucrit sendirian tiba di Kawah Gunung Sahari. Ketika mendekati ujung kawah dan hendak melemparkan cincin batu akik tersebut, tiba-tiba sesosok makhluk menyambar tangan Ucrit dan merebut cincinnya. Ternyata sosok tersebut adalah Tuan Krabs. Dia tidak rela cincin yang mahal tersebut harus dibuang ke dalam kawah. Dia berniat menjual cincin itu ke Toko Sembako milik Haji Slamet. Pergumulan terjadi antara mereka berdua, tapi rupanya kekuatan mereka berdua seimbang. Akhirnya, mereka menyelesaikan pertarungan dengan suit kertas, gunting, batu untuk menentukan pemenangnya. Ternyata Ucrit menang suit, itu karena jari tuan Krab hanya bisa membentuk simbol gunting karena dia seekor kepiting. Ucrit yang mengetahui kelemahan Tuan Krabs akhirnya menang dan melemparkan cincin tersebut ke dalam kawah. Ketika dia melemparkannya, terdengar suara aneh dari dalam kawah.
“Selamat, anda berhak mendapatkan Boneka Barbie karena telah menghancurkan Cincin Batu Akik Sakti!”.
Sekejap kemudian, Ucrit mendapati sebuah boneka barbie cantik di tangannya, hadiah dari Kawah Gunung Sahari. Tapi, tanah mulai berguncang, semua benda tampak runtuh. Rupanya di kawasan tersebut sedang terjadi penggusuran oleh Satpol PP. Semua bangunan dihancurkan oleh mereka tanpa tersisa sedikitpun, begitu juga dengan Kawah Gunung Sahari, dihancurkan karena telah melanggar Izin IMB dari Pemprov DKI.

Ucrit pun berlari sekencang-kencangnya dari tempat itu. Dari kejauhan dia melihat Gunung Sahari hancur oleh Bulldozer, rata dengan tanah. Lain halnya dengan keempat teman Ucrit yang berhasil lolos dari Satpol PP, ketika mereka melihat Kawah Gunung Sahari hancur oleh Buldozer, mereka bersedih karena mereka mengira Ucrit ikut tertimbun bangunan di dalamnya.
Keempat teman Ucrit pun pulang ke Kampung Tuyul, tak diduga, ternyata mereka bertemu dengan Ucrit yang masih hidup dan berhasil selamat dari Buldozer dan Satpol PP. Mereka berlima pun berpelukan layaknya film TELETUBBIES. Kampung Tuyul pun berpesta ria karena Persaudaraan Crat crit crut cret crot berhasil menghancurkan cincin batu akik milik Gerandong dan membebaskan Kampung mereka dari genggaman Bangsa Genderuwo.
Dan Ucrat, Ucrit, Ucrut, Ucret dan Ocrot pun hidup bahagia selamanya di Kampung Tuyul.

Tantangan Meningkatkan Cyber Security di Indonesia dan Kelebihan Serta Kekurangan AI (Artificial Intelligence)

  Mohamad Faisal Ramadhan   -   Pengetahuan Sabtu, 15 Jan 2023 12.42 1. Jelaskan kelebihan dan kekurangan kecerdasan buatan (artificial inte...